Sebelum Bulan Berikutnya
Jam di pojok kanan laptop menunjukkan pukul 01.17.
Raka masih duduk di depan meja kerjanya. Di layar laptop, sebuah project yang sebenarnya sudah selesai sejak satu jam lalu masih terbuka. Beberapa baris kode terpampang di layar, tapi tidak ada satu pun yang sedang ia pikirkan.
Tangannya masih berada di atas keyboard.
Kursor berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Raka akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menghela napas panjang.
Besok pagi ia harus bekerja lagi. Tapi entah kenapa malam selalu menjadi waktu yang paling sulit untuk tidur.
Siang hari, pikirannya sibuk. Ada pekerjaan, meeting, pesan dari teman kantor, deadline, dan hal-hal kecil yang membuatnya tidak sempat memikirkan hidup terlalu jauh.
Tapi malam berbeda.
Saat semuanya mulai diam, pikirannya justru mulai ramai.
Raka membuka aplikasi mobile banking di ponselnya. Saldo rekeningnya masih ada. Tidak banyak, tapi cukup. Setidaknya untuk sekarang.
Ia menutup aplikasi itu.
Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi.
Melihat angka yang sama.
Kemudian menutupnya.
"Masih aman."
Ia mengatakannya pelan.
Entah kepada siapa.
Raka mengambil ponselnya lagi dan membuka kalender. Gajian masih beberapa hari lagi.
Ia menghitung di dalam kepala.
Listrik.
Internet.
Belanja rumah.
Uang sekolah adiknya.
Transportasi.
Kebutuhan sehari-hari.
Dan entah kenapa selalu ada saja sesuatu yang muncul di luar perhitungan.
Raka mengunci layar ponselnya dan menatap langit-langit kamar.
Usianya baru dua puluh tiga tahun.
Tapi beberapa malam terakhir ia merasa seperti sedang mengejar sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia mengerti.
Pagi harinya, rumah sudah mulai ramai.
"Mas, bangun."
Suara adiknya terdengar dari balik pintu.
Raka masih setengah sadar.
"Jam berapa?"
"Setengah tujuh."
Raka langsung bangun.
"Kenapa nggak bangunin dari tadi?"
"Udah. Mas-nya aja yang nggak bangun."
Adiknya pergi sambil tertawa kecil.
Raka melihat jam di ponselnya, mengusap wajah, kemudian segera bersiap.
Di ruang makan, ibunya sedang menyiapkan sarapan.
"Kerja?"
"Iya, Bu."
"Hari ini pulang malam lagi?"
"Kayaknya."
Ibunya hanya mengangguk.
"Jangan lupa makan."
Raka tersenyum.
"Iya."
Percakapan mereka selesai sampai di situ.
Sederhana.
Seperti kebanyakan pagi lainnya.
Di meja makan ada tiga orang.
Ibunya.
Adiknya.
Dan dirinya sendiri.
Hanya mereka bertiga sekarang.
Raka tidak pernah terlalu suka memikirkan bagaimana rumah itu bisa berubah menjadi sesunyi ini. Dulu ada lebih banyak suara. Sekarang tinggal tiga orang.
Dan entah sejak kapan, Raka merasa dirinya harus memastikan ketiganya tetap baik-baik saja.
"Mas."
"Hm?"
"Uang sekolah aku nanti..."
Adiknya berhenti bicara.
Raka menoleh.
"Kenapa?"
"Besok katanya harus bayar."
Raka diam sebentar.
"Oh."
Ia mengambil ponselnya.
"Nanti mas kirim."
Adiknya mengangguk.
"Oke."
Tidak ada masalah.
Setidaknya tidak ada yang terlihat sebagai masalah.
Raka kembali makan.
Adiknya juga.
Ibunya tidak berkata apa-apa.
Tapi Raka tahu.
Ia harus mengaturnya.
Selalu begitu.
Raka bekerja sebagai programmer di sebuah perusahaan. Pekerjaannya sebenarnya tidak buruk. Ia bahkan cukup menikmati pekerjaannya.
Ada hari ketika ia berhasil menyelesaikan sebuah fitur dan merasa bangga dengan dirinya sendiri. Ada juga malam ketika ia melihat project yang berhasil berjalan dan berpikir:
Kayaknya gue memang bisa.
Tapi pikiran itu biasanya tidak bertahan lama.
Karena setelahnya selalu muncul pertanyaan lain.
Emang skill gue cukup?
Kalau nanti cari kerja lagi, ada yang mau nerima gue?
Kalau kontrak ini selesai gimana?
Kontraknya tidak lama lagi.
Perusahaan belum memberikan kepastian.
Tidak ada yang mengatakan bahwa ia akan diberhentikan. Tidak ada juga yang mengatakan bahwa kontraknya pasti diperpanjang.
Hanya ketidakpastian.
Dan bagi Raka, ketidakpastian adalah sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kegagalan.
Karena kalau gagal, setidaknya ia tahu apa yang harus diperbaiki.
Tapi kalau tidak tahu apa yang akan terjadi?
Ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Ada satu hal lain yang selalu membuat Raka takut.
Ibunya punya riwayat penyakit jantung.
Beberapa kali kondisi ibunya sempat memburuk dan membuat mereka harus membawanya ke rumah sakit.
Setiap kali itu terjadi, Raka selalu berusaha terlihat tenang.
Padahal di kepalanya hanya ada satu pertanyaan.
Biayanya dari mana?
Pernah suatu kali, ketika keadaan sedang benar-benar sulit, Raka harus meminjam uang untuk menutup biaya rumah sakit.
Ia masih ingat malam itu.
Duduk di lorong rumah sakit. Lampunya terlalu terang. Ponselnya berada di tangan. Jarinya membuka beberapa chat, menghitung nominal yang bisa dipinjam, lalu menghitung lagi berapa yang mungkin bisa ia kembalikan setiap bulan.
Ia tidak ingin ibunya tahu.
Bukan karena ia tidak percaya kepada ibunya.
Ia hanya tidak ingin ibunya memikirkan uang di saat sedang sakit.
Akhirnya uang itu berhasil dipinjam.
Biaya rumah sakit terbayar.
Beberapa waktu kemudian, semuanya berhasil ia lunasi.
Masalah itu sudah selesai.
Tapi rasa takutnya tidak ikut selesai.
Justru sejak saat itu, Raka semakin sering berpikir:
Kalau kejadian lagi gimana?
Kalau waktu itu gue belum punya kerjaan gimana?
Kalau nanti kontrak gue nggak diperpanjang, terus Ibu sakit lagi gimana?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah benar-benar punya jawaban.
Dan mungkin karena itulah Raka selalu merasa harus punya uang yang cukup.
Harus punya pekerjaan.
Harus punya kemampuan.
Harus siap.
Padahal ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya selalu siap menghadapi sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Di kantor, Raka tetap seperti biasa.
Ia bercanda dengan teman-temannya. Ikut tertawa ketika ada yang membuat lelucon. Kadang ikut makan siang bersama. Kadang ngobrol tentang teknologi. Kadang membicarakan game.
Teman-temannya cukup banyak.
Beberapa bahkan sudah mengenalnya bertahun-tahun.
Tapi tidak satu pun dari mereka tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan setiap malam.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Raka saja yang tidak pernah cerita.
Pernah suatu kali seorang temannya bertanya,
"Lu akhir-akhir ini kenapa?"
Raka tertawa.
"Kenapa emang?"
"Kayak capek aja."
Raka mengangkat bahu.
"Kurang tidur."
"Oh."
Temannya tidak bertanya lagi.
Raka bersyukur.
Tapi di waktu yang sama, ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap temannya bertanya sekali lagi.
Sore itu, ketika jam kerja hampir selesai, sebuah pesan masuk.
HR:
"Raka, untuk kontraknya nanti kita masih tunggu keputusan dari management ya."
Raka membaca pesan itu beberapa kali.
Tidak ada yang salah dengan kalimat tersebut. Bahkan sebenarnya cukup biasa.
Tapi dadanya terasa sedikit sesak.
Ia mengetik:
"Baik, Kak."
Mengirimnya.
Kemudian kembali bekerja.
Tidak ada yang berubah.
Monitor masih menyala.
Keyboard masih berbunyi.
Orang-orang di sekitarnya masih berbicara.
Tapi sejak pesan itu masuk, pikirannya sudah pergi jauh.
Ia membayangkan rumah.
Ibunya.
Adiknya.
Tagihan bulan depan.
Uang sekolah.
Dan dirinya sendiri yang mungkin harus mencari pekerjaan baru.
Kalau nggak diperpanjang gimana?
Pertanyaan itu kembali muncul.
Ia mencoba mengabaikannya.
Tapi semakin ia mencoba, semakin keras pertanyaan itu terdengar.
Malamnya, Raka pulang lebih cepat.
Ibunya sedang duduk di ruang tengah.
"Udah pulang?"
"Iya, Bu."
"Kerjaan gimana?"
"Baik."
Raka meletakkan tas.
Ibunya tersenyum kecil.
"Capek?"
"Sedikit."
"Yaudah istirahat."
Raka mengangguk.
Ia hampir masuk kamar ketika ibunya berkata,
"Raka."
"Iya?"
"Kalau ada apa-apa bilang sama Ibu."
Raka terdiam.
Hanya sebentar.
Kemudian tersenyum.
"Nggak ada apa-apa, Bu."
Ibunya menatapnya beberapa detik.
Lalu mengangguk.
"Yaudah."
Raka masuk kamar.
Menutup pintu.
Duduk di tepi kasur.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia membiarkan dirinya tidak melakukan apa-apa.
Tidak membuka laptop.
Tidak membuka mobile banking.
Tidak membuka kalender.
Hanya duduk.
Diam.
Kemudian ia mendengar suara adiknya dari luar.
"Mas?"
"Iya?"
"Besok aku ada tugas."
"Terus?"
"Bisa bantu nggak?"
Raka tersenyum kecil.
"Bisa."
"Serius?"
"Iya."
"Oke."
Langkah kaki adiknya menjauh.
Raka kembali menunduk.
Aneh.
Di rumah itu ada suara.
Ada ibu.
Ada adik.
Di luar rumah ada teman.
Di kantor ada orang-orang yang mengenalnya.
Ia tidak benar-benar sendirian.
Tapi kenapa setiap malam rasanya seperti ia sedang menghadapi semuanya sendirian?
Malam semakin larut.
Raka kembali membuka laptop.
Bukan untuk bekerja.
Ia membuka folder project yang beberapa minggu terakhir ia kerjakan.
Ia melihat kode yang ia tulis sendiri.
Project itu bukan project sempurna.
Masih ada bug.
Masih ada bagian yang bisa diperbaiki.
Tapi project itu berjalan.
Ia berhasil membuatnya.
Sendiri.
Raka tersenyum tipis.
Untuk beberapa detik, ia kembali merasakan sesuatu yang sudah lama hilang.
Bangga.
Tapi kemudian pikirannya kembali berkata:
Belum tentu cukup.
Ia menutup laptop.
Kali ini ia tidak membukanya lagi.
Raka berbaring.
Menarik selimut sampai dada.
Kemudian menatap langit-langit kamar.
Besok mungkin masih sama.
Ia masih harus bekerja.
Kontraknya masih belum jelas.
Uang masih harus dicari.
Adiknya masih harus sekolah.
Ibunya masih harus dijaga.
Dan ia masih belum tahu bagaimana semua itu akan berjalan.
Apalagi ia tahu, suatu hari nanti mungkin akan ada lagi malam ketika ibunya harus dibawa ke rumah sakit.
Dan ia tidak tahu apakah saat itu ia masih punya pekerjaan untuk membayar semuanya.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, Raka mencoba mengatakan sesuatu yang selama ini bahkan sulit ia akui kepada dirinya sendiri.
"Capek juga."
Pelan sekali.
Hampir seperti bisikan.
Tidak ada yang menjawab.
Tapi anehnya, setelah mengatakan itu, dadanya terasa sedikit lebih ringan.
Mungkin masalahnya belum selesai.
Mungkin besok ia akan kembali khawatir.
Mungkin kontraknya benar-benar tidak diperpanjang.
Mungkin ia harus mencari pekerjaan baru.
Mungkin ibunya kembali sakit.
Mungkin semuanya tidak akan berjalan sesuai rencana.
Tapi untuk malam itu saja—
Raka membiarkan dirinya menjadi seorang anak laki-laki berusia dua puluh tiga tahun.
Bukan pencari nafkah.
Bukan seorang programmer.
Bukan kakak yang harus selalu punya jawaban.
Bukan seseorang yang harus terlihat kuat.
Hanya Raka.
Yang sedang takut.
Yang sedang lelah.
Dan yang sebenarnya hanya ingin tahu—
apakah besok semuanya masih akan baik-baik saja?
Ia memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya perlahan menjadi sunyi.
Dan sebelum tertidur, satu kalimat terakhir muncul di kepalanya.
Besok dipikirin lagi.
Lalu malam membawanya tidur.